Esensi Kehidupan Muslim


Dunia datar adalah dunia di mana jarak tempuh semakin diperpendek, itu
menurut saya. Thomas Friedman dalam bukunya The World is Flat, menyatakan bahwa
ada sepuluh hal yang membuat dunia ini merata. Di antaranya, in-forming, informasi
yang semakin meluas. Salah satu faktor pendukungnya, Google. Netter mana yang
tidak kenal?
Terlepas dari itu semua, saya pernah berpikir bahwa meskipun dunia ini
semakin datar dengan internet, tetap ada belahan dunia yang tak terjangkau. Jangankan
jauh di luar negeri, mari tengok tetangga kiri kanan, kampung sebelah misalkan.
Ataukah, tetangga di balik rumah? Betapa hidup adalah hal yang ringkas dan
mudah bagi mereka. Berjuang atau kelaparan. Itu pada paparan tingkat miskin.
Atau pada orang-orang tua, yang semakin hari semakin pusing melihat anak
muda zaman sekarang. Mereka berpendapat bahwa hidup itu pokoknya nrimo ing
pandum
, ngibadah gawe Gusti Pangeran. Menerima apa yang menjadi
bagiannya, beribadah kepada Tuhan.
Terkadang hidup yang semakin rumit kita rasakan adalah simpulan yang
ringkas: beribadah.
Kita yang membuatnya rumit, sehingga simpul tadi semakin terkait-kait dengan ikatan yang lain.
Ibadah, itulah inti dari kehidupan kita. Indah bukan?
Dunia ini datar, dengan ibadah. Karena dengan ibadah, kita melakukan koneksi langit, kepada The Ultimate Being, Allah. Ketika koneksi tercipta, dunia benar-benar terasa fana. Hanya satu yang saat itu kita harapkan: keridhaan-Nya. Tidak lain.

0 komentar:

Posting Komentar